Senin, 29 September 2014
Kamis, 25 September 2014
Contoh Artikel
Sosok
Seorang Suhardi
Suhardi adalah sosok yang patut kita contoh, karena semua
ketekunan dan usaha yang telah ia upayakan. Sosok yang baik untuk dijadikan
panutan, Apalagi bagi seorang pemuda-pemudi bangsa yang harus pantang menyerah.
Suhardi adalah sosok yang sangat sederhana, bahkan ia sempat tidak dikenali
sebagai ketua umum partai Gerindra karena pergi ke kantornya dengan menaiki
ojek.
Suhardi lahir pada tanggal 13 Agustus 1952. Ia menjalani
masa-masanya di waktu kecil di Klaten, Jawa Tengah. Suhardi telah lulus dari
sekolah kejuruan sebanyak dua kali dan merupakan lulusan dari STM Geologi
Pertambangan, STM Pertanian Delanggu, bahkan merupakan alumnus Fakultas
kehutanan di UGM. Suhardi berhasil meraih gelar master dan doktor dalam bidang
kehutanan di sebuah University of The Phillipines Los Banos.
Suhardi adalah sosok yang mendedikasikan dirinya ke dalam
dunia pertanian. Sebagai seseorang yang mendapatkan julukan “Profesor Tela”
tentulah berasal dari hasil jerih payah dan prestasinya yang telah menggeluti
dunia yang ia pelajari itu. Banyak ilmu yang ia dapatkan dari jenjang
pendidikan yang ia lalui, dan sebagai seseorang yang mengetahui banyak hal
tentang ketela, ia telah mendapatkan beberapa penghargaan seperti pada tahun
1999 di tingkat nasional. Di tingkat internasional pada tahun 2007 , ia mendapatkan penghargaan dari SFRT SEARCA Award for Optimization of
Casuarina Equisetifolia sp for Food Security.
Suhardi menjadi sosok yang banyak menginspirasi
orang-orang. Suhardi juga sangat mendukung karir dari wakil gubernur DKI
Jakarta yaitu Basuki Tjahaja Purnama. “Beliau orang yang baik banget. Saya
pikir beliau salah satu orang Gerindra yang paling mendukung saya” ungkapnya di
Balai Kota Jakarta, Jumat (29/8/2014).
Begitu pula dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra,
Prabowo Sugianto di saat pemberangkatan Alm. Suhardi ke Yogyakarta. Bahkan
Prabowo tampak tersedu-sedu dalam proses pelepasan jenazah ketum partai
Gerindra tersebut. “Atas nama Partai Gerindra saya melepas jenazah Alm. Prof.
Suhardi. Selamat jalan sahabatku, selamat jalan Suhardi. Kau pejuang sejati.
Kau pemimpin bersih. Kami hormat sama Engkau dan kami akan meneruskan tradisi
dan cita-citamu,” kata Prabowo sambil tersedu di Kantor DPP Gerindra, Jl.
Harsono RM, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (29/8/2014).
Suhardi meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina,
Jakarta. Kamis 28 Agustus 2014, pukul 21.31 WIB. Suhardi di diagnosa penyakit
kanker paru-paru. Kini telah hilang sudah seseorang yang menjadi inspirasi
dalam bidang pertanian yang memiliki banyak prestasi dan telah mendedikasikan
dirinya bagi tanah airnya. Kini telah pergi seseorang yang memberikan banyak
ilmu tentang politik.
Senin, 01 September 2014
Cerpen
“Negeri Conklin di balik bambu”
Bermula pada suatu hari
yang tampak amat sangatlah gelap. Tidak tampak seperti malam hari yang
menyelimuti hari-hari biasanya, bahkan tak terlihat sedikitpun cahaya di sini.
Penuh tanya dan kegelisahan dalam benakku. Semuanya bagai mimpi buruk yang
menggerogoti jiwa ragaku. Terasa sesak di dadaku seakan mengikat keras, sulit
bernafas dengan tenang.
Kepanikan menghantui
diriku, aku takut bahkan amat sangat takut. Langkah kakiku tidak dapat pergi
sejauh mungkin,hanya berdiri kaku bagai batu. Kurasakan ada sebatang pohon yang
telah tumbang dan kujadikan sebagai tempat istirahatku. Setidaknya aku masih
bisa duduk untuk menenangkan fikiranku dari kepanikan yang mencekamku.
Beberapa waktu kemudian
ada sebuah cahaya putih bagai kilat yang melesat dari arah depan tempatku
berdiri. Aku bingung, entah apa yang ku lihat di tengah kegelapan ini. Setelah
kilat itu menghilang terdengar olehku suara kayu yang di hentak-hentakan dari
asal kilat tersebut. Semakin lama suaranya semakin nyaring terdengar dan suara
itu semakin dekat, dekat dan dekat mengarah kepadaku.
Saat itu aku tahu bahwa
ada seseorang yang berjalan mengarah ke tempatku duduk. Aku hanya bisa
menerka-nerka bahwa itu adalah seseorang yang sudah tua membawa tongkat atau seseorang
yang tidak dapat melihat membawa tongkat. Aku tidak tahu apakah aku harus takut
atau senang karena ada seseorang yang datang menghampiriku. Kedatangannya
seolah-olah diiringi hembusan angin yang sedikit membuatku menggigil.
Kemudian suara tongkat
itu berhenti, tetapi jantungku berdegub kencang tak terarahkan.
“Kaamuu siapa?”tanyaku
kepada seseorang bertongkat tersebut. Namun tidak sepatah katapun terdengar
olehku. Aku menjadi ketakutan dan fikiran-fikiran aneh terlintas di benakku.
“Hei .. kamu siapa? Apakah kamu tahu apa yang terjadi kepadaku? Apakah kamu
tahu kenapa aku di sini? Tolong jawab pertanyaanku!”tanyaku kepadanya dengan
suara yang lantang.
Tiba-tiba aku
dikagetkan oleh seseorang yang memegang erat lenganku. Aku hanya bisa menangis
dalam ketakutanku hingga seketika itu aku merasakan angin bertiup kencang di
sekitarku. Aku hanya bisa memejamkan mataku dengan ketakutan yang semakin
besarku rasakan. Kurasakan hembusan tersebut berhenti dan dalam pejaman mataku
bisa kurasakan jika aku tidak lagi berada dalam kegelapan tersebut.
Terdengar kicauan
burung dan aku merasakan udara yang sangat sejuk bahkan nyaman di tempatku
berdiri sekarang. Kuberanikan diri untuk membuka kedua mataku secara perlahan,
karena batinku dapat menunjukkan perasaan yang jauh lebih tenang dari
sebelumnya. Tepat pada pandangan pertamaku setelah itu, aku melihat sebuah
hutan bambu yang rindang dimana tampak sebuah dinding tinggi dibelakangnya.
Sebuah dinding tersebut tampak kokoh sebagai benteng pertahanan yang kuat, entah
mengapa aku merasa sangat dekat berada di sini.
Nenek tua ini mulai
melepaskan genggaman tangannya,kemudian aku bertanya kepada nenek itu, “Nek,
maaf tapi mau kemana kita? Tidak mungkin kita melewati tembok yang tinggi ini
bukan?”. Nenek itu tidak menggubris pertanyaanku, ia hanya melihat tepat kearah
depan mengarah pada hutan bambu yang menutupi dinding besar itu.Perasaanku
tentu tak menentu penuh pertanyaan-pertanyaan yang masih membingungkanku.
Tetapi ada satu hal yang membuatku tenang, hanya perasaan yang merasa amat
sangat dekat dengan dinding tinggi itu.
Sekarang kami tepat
berada di depan tembok yang di penuhi bambu, nenek itu mencoba menghentakkan
tongkatnya ke tanah. Aku terkejut dengan getaran tanah yang tepat berada di
bawah kakiku, tanahnya bergeser beriringan dengan bergesernya bambu-bambu yang
menutupi tembok tinggi di hadapanku. Ternyata bambu-bambu itu bukanlah menutupi
tembok tinggi itu, melainkan menutupi sebuah pintu rahasia untuk masuk ke dalam
tembok tinggi.Sebuah ilusi yang digunakan untuk menutupi jalan rahasia menuju
tempat yang jauh misterius.
Langkah pertama di saat
memasuki tembok tersebut, terlihatlah sebuah peradaban di sana. Banyak
orang-orang yang tampak berbeda dari diriku dan nenek yang datang
bersamaku.Ukuran mereka jauh lebih kecil dari tubuhku, padahal aku hanyalah
seorang anak kecil yang berumur 12 tahun. “Apakah mungkin mereka berumur jauh
lebih muda dari diriku?”benakku bertanya. Ukuran mereka yang lebih kecil
menguatkan pemikiranku yang mengatakan bahwa mereka berumur lebih muda dari
diriku.
Tatapan orang-orang itu
menunjukkan rasa lemah dan menyedihkan. Mereka hanya menatapku sekilas, tetapi
telah kurasakan banyak penderitaan yang mereka lalui. Mereka kembali melakukan
pekerjaan yang dilakukan sebelumnya sesaat sebelum kedatanganku dan melihat
diriku. Aku bagai orang yang tak dibutuhkan di sana, namun nenek ini masih saja
tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku hanya dapat mengikuti ia dari
belakang karena suatu hal yang tidak mungkin untuk kembali ke tempat asal
diriku.
Setelah bermil-mil kami
melalui peradaban yang ada di dalam tembok, kami berhenti pada sebuah rumah
minimalis dengan cerobong asap. Aku dan sang nenek masuk kedalamnya, kemudian
kami duduk di antara banyak orang yang sama tetap berukuran kecil dengan
pakaian berwarna hijau. Sang nenek tersebut duduk tepat berhadapan dengan
diriku, dia hanya melihatku saja setelah selesai berbisik dengan salah satu
pria kecil berbaju hijau. Aku tidak lagi mencoba untuk bertanya-tanya
kepadanya, karena sudah cukup banyak pertanyaan yang kuutarakan kepada dirinya.
“Kamu mungkin tidak
akan mengerti mengapa aku membawa dirimu kemari! Namun suatu saat yang tepat
kamu akan jauh mengerti! Kamu akan pergi bertemu dengan seseorang yang baik
setelah ini, setelah pria yang berbisik
denganku tadi datang kembali untuk mengajakmu. Ikuti saja, jangan ragukan
dirimu!” ujarnya seketika kepadaku. Maka tak lama kemudian pria yang tadi
berbisik dengannya datang menemuiku, kemudian membawaku ke dalam salah satu
ruangan yang ada di rumah minimalis tersebut.
Aku duduk di sebuah
kursi tanpa sebuah sandaran berwarna cokelat tua. Melihat ke arah depan ada
sebuah kursi yang tinggi yang kemudian berbalik mengarah kepada diriku. Tampak
seseorang bertubuh kecil, berbaju hijau memegang sebuah pot kecil dengan sebuah
batang kayu di dalamnya. Aku kebingungan melihat batang kayu tersebut.
Kemudian suatu hal
terjadi, batang tersebut seolah-olah tumbuh mengekarkan bagian tubuhnya
mengeluarkan ranting kecil yang tampak bagai jemari mengarah kepadaku. Ranting
itu menarik lengan tanganku, kemudian membentuk seperti gelang. Gelang ini
mengeluarkan akar kecil yang kemudian masuk menembus ke lapisan daging tanganku
mengarah ke urat nadiku. Rasa sakit yang mendidihkan diriku dan menusuk dengan
kuat seiring dengan semakin masuknya akar tersebut ke urat nadiku. Jeritan yang
penuh rasa sakit kualami di hari itu dengan rasa yang amat sangat dahsyat
membuatku terhentak dari tempat dudukku.
Jemari tanganku tak
mampu membungkam akar-akar kecil itu, hanya bisa membiarkannya mencucurkan
sedikit demi sedikit darah di lengan kecilku. Seketika itu jariku terkaku
olehnya dan akhirnya rasa sakit itu hilang sedikit demi sedikit. “Apa yang kau
lakukan? Rasa sakit ini membakar diriku yang tak berdaya! Kau lakukan dengan
sesuka hatimu tanpa berbicara sepatah katapun kepadaku! Kau hanya membawa
derita kepadaku!”teriakku kepada orang dengan pot tersebut.
“Itulah hadiah yang
kuberikan kepadamu! Terimalah dan gunakanlah sebaik-baiknya! Dan janganlah
sia-siakan pemberian istimewa dari diriku!” ujarnya kepadaku dengan senyuman
lebar. “Ahhh .. sakitnya kembali! Ini bukanlah hadiah tapi sebuah musibah bagi
diriku! Darahku yang bercucuran ini masih belum terhenti seiring dengan rasa
sakitku! Mengapa .. mengapa kau lakukan ini! Aku mau pulang! Aku mohon
...”teriakku merintih kepadanya di iringi tangisanku yang tersedu-sedu.
Aku mencoba untuk
melepaskan kedua gelang batang di pergelangan tanganku malah menambah sakit.
Sehingga aku berusaha bangun dan pergi berlari keluar meninggalkan ruangan itu
begitu juga dengan nenek itu. Aku hanya mencoba untuk berlari sejauh-jauhnya
dan akhirnya aku terjatuh menyentuh sebuah batang yang telah mati. Kemudian
batang itu tumbuh tegak berdiri yang akarnya masuk ke dalam tanah dan
menumbuhkan daun di ranting-rantingnya. Namun di saat aku menyentuh batang yang
telah mati itu, tetesan darah dari pergelangan tangan kananku jatuh menetes
tepat di atas batangnya yang kemudian menumbuhkannya kembali.
Kumengerti bahwa inilah
hadiah yang ia maksudkan dan menyadarkanku bahwa aku telah memasuki dunia
Conklin, dunia sebuah legenda leluhurku. Dunia bagi para manusia terpilih untuk
dapat berubah menjadi bangsa olomma yaitu bangsa yang mempunyai kekuatan untuk
menghidupkan tumbuhan-tumbuhan yang telah mati oleh kerakusan dari rasa sombong
manusia. Hanya dengan perasaan amarah dan kesakitanlah yang dapat meningkatkan
kekuatan orang terpilih. Kekuatan dari penguasa dunia Conklin yang berupa
anugerah orang terpilih untuk menghentikan kerakusan manusia.
Tangan kananku
mengayunkan ke atas kemudian memutarnya dengan kekuatanku untuk menarik ranting
pepohonan yang berada dekat dengan diriku. Tangan kiriku mendorong kearah ujung
ranting untuk memutuskannya dan kemudian membentuk rantingnya menjadi bulatan
seperti bola. Di dalam bola ranting tersebut kutumbuhkan dedaunan di dalamnya.
Bola ranting inilah yang menunjukkan kehidupan dari orang terpilih yang
membuatnya, apakah ia masih dapat bertahan hidup atau mati. Bola ranting inilah
yang telah kulihat dari tadi yang mengingatkan semua kejadian masa laluku ini,
dimana dedaunan ini telah layu dan menunjukkan diriku sebagai bangsa olamma
telah habis.
Selasa, 26 Agustus 2014
Pantun
by: EA
Pergi jauh untuk membeli manisanSinggah di pasar beli tuna
Janganlah kamu bermalas-malasan
Karena memang tidaklah berguna
Ada batu jauh terlontar
Terlontar ke kaca di rumah tetangga
Belajar keras untuk pintar
Membanting tulang tentulah untuk keluarga
Di desa sebelah membeli jamu
Jamu dibeli tentulah untuk tamu
Sayangilah kedua orangtuamu
Karena mereka yang membesarkanmu
Ada kerabat ingin bertemu
Datang bertemu tanpa bertanya
Kalau hendak ingin bertamu
Ucapkanlah salam sebelumnya
Puisi
by : EA
Pengorbanan Para Patriot Kemerdekaan
Aman, damai dan tentram ...
sebuah hasil jerih payah sikap patriotisme
sebuah hasil jerih payah sikap patriotisme
yang gagah berani dan berdiri tegap
menghadang tanpa goyah untuk merdeka
Ibu pertiwiku tercinta telah menangis dirundung duka
gugur sudah para pejuang bangsa
tanah tempat berpijak berlumuran darah
oleh jiwa yang telah mereka pertaruhkan
Kemerdekaan yang kini telah kita raih
tentulah dari jasa sang patriot kita
kenanglah mereka sebagai panutan
berjuang .. berjuang untuk tanah air
Sebagai generasi muda yang menyongsong harapan baru
wujudkanlah impian generasi terdahulu
jadikanlah bumi dan tanah tempat kita berpijak
menjadi bumi kita yang makmur hingga raga ini tak lagi bernyawa ...
Senin, 25 Agustus 2014
Just Design
Simple Design ... :)
by : EA
by : EA
Ini adalah design baju yang saya buat. Sebagai pemula baju yang saya design memang tidak begitu bagus jadi saya harap teman-teman yang melihatnya bisa memberi saran/ masukan untuk lebih baik kedepannya.
:) Art is miracle (:
Minggu, 24 Agustus 2014
Harapanku
Habis pengharapanku
hanya gejolah amarah yang terasa
hanya sakit hati yang membekas
hanya tangis yang teruraikan
Semuanya hanyalah kesia-siaan
tak mampu menyongsong untaian hari
tak dapat tegar tuk berdiri ..
hanya sebuah penyesalan
Harapan yang dulu adalah impian
bagai debu yang terhembus angin
kini rintihan tangis yang tersedu-sedu
hanya sebuah harapan yang telah pupus ...
by: EA
hanya gejolah amarah yang terasa
hanya sakit hati yang membekas
hanya tangis yang teruraikan
Semuanya hanyalah kesia-siaan
tak mampu menyongsong untaian hari
tak dapat tegar tuk berdiri ..
hanya sebuah penyesalan
Harapan yang dulu adalah impian
bagai debu yang terhembus angin
kini rintihan tangis yang tersedu-sedu
hanya sebuah harapan yang telah pupus ...
by: EA
Langganan:
Komentar (Atom)
